Wabup Bone Hadiri Musabaqah Qira’atil Kutub Internasional Pertama di Wajo

Berita Utama5017 Dilihat

WAJO,TRENDSULSEL–Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, SP., MM., menghadiri Musabaqah Qira’atil Kutub Internasional (MQKI) pertama tahun 2025 yang diikuti oleh peserta dari 10 negara. Kegiatan ini berlangsung di Kampus III Macanang, Pondok Pesantren As’adiyah, Kabupaten Wajo, Kamis (2/10/2025).

Acara tersebut turut dihadiri oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA., Gubernur Sulawesi Selatan H. Andi Sudirman Sulaiman, ST., jajaran Kementerian Agama, kepala daerah se-Sulawesi Selatan, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

MQKI tahun ini merupakan pelaksanaan ke-8 secara nasional dan pertama secara internasional. Kegiatan ini mengangkat tema “Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian dengan Kitab Turats.”

Wakil bupati Bone Andi Akmal Pasluddin menyampaikan Apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini sinergi yang baik antara pemerintah daerah, panitia, dan seluruh pihak terkait serta peran Pondok Pesantren As’adiyah yang telah menjadi tuan rumah dari acara berskala internasional ini.

Dalam sambutannya, Gubernur Sulawesi Selatan menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan MQKI di Kabupaten Wajo. Ia menyebut pelaksanaan event internasional ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sulsel.

“Terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Menteri Agama KH. Nasaruddin Umar yang telah melaksanakan MQKI pertama dan memilih Kabupaten Wajo sebagai tuan rumah. Ini tentu membangkitkan semangat masyarakat terhadap budaya pesantren,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Agama RI mengawali sambutannya dengan mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan para santri Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo yang menjadi korban tertimpa bangunan.

KH. Nasaruddin Umar juga memaparkan sejarah Pondok Pesantren As’adiyah yang didirikan oleh KH. Muhammad As’ad pada tahun 1930 dan kini memiliki 454 cabang di seluruh Indonesia serta satu cabang di Malaysia. Ia menyebut As’adiyah sebagai pondok pesantren tertua di luar Pulau Jawa.

“Semua pondok pesantren, khususnya di Sulawesi Selatan, pendirinya berguru di sini. Hari ini merupakan momen bersejarah, khususnya bagi Pondok Pesantren As’adiyah atas pelaksanaan MQKI pertama yang diikuti oleh 10 negara,” ujarnya.

MQKI, lanjut Menteri Agama, bukan hanya untuk meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning, tetapi juga untuk menggali kepemimpinan melalui kegiatan pramuka, pertanian, dan berbagai potensi lainnya. Ia berharap pesantren dapat menjadi pusat peradaban Islam modern.(al)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *