BONE,TRENDSULSEL–Suasana desa yang biasanya tenang mendadak riuh. Warga berbondong-bondong menyambut kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M.
Meski sebelumnya Bupati Andi Asman menempuh perjalanan panjang dari Makassar. semangatnya tak sedikit pun surut. Usai panen jagung bersama petani Watangcani, ia berbicara penuh semangat di hadapan warga tentang arah pembangunan Bone ke depan.
“Pelan-pelan infrastruktur jalan akan kita bangun di sini. Tahun depan kita upayakan masa kerja BerAmal full untuk pembangunan Kabupaten Bone. Tapi yang lebih penting dari itu adalah pembangunan sumber daya manusia,” tegasnya(4/11/25).
Bontocani, Daerah Terjauh yang Harus Dibantu
Bontocani dikenal sebagai wilayah paling jauh dari pusat pemerintahan Bone. Akses jalan yang sulit dan jarak yang menempuh puluhan kilometer membuat layanan publik tidak semudah di daerah lain. Namun, bagi Bupati Andi Asman, itu bukan alasan untuk membiarkan ketimpangan.
“Di Bontocani wajib kita bantu, karena ini daerah terjauh. Saya minta tiap dua minggu sekali pelayanan KTP ditempatkan di Watangcani, menopang dua desa didekatnya” Kata Bupati Bone.
Tak hanya layanan administrasi, sektor kesehatan pun menjadi perhatian serius. Bupati Andi Asman menegaskan agar Pustu (Puskesmas Pembantu) di Watangcani diperkuat dengan tenaga medis tambahan.
“Pustu di sini harus ada tenaga kesehatan yang mem-backup, karena kota kecamatan jauh. Pelayanan di sini harus setara puskesmas,” tandasnya.
Watangcani sendiri kini akan dijadikan wilayah koordinator layanan kesehatan bagi tiga desa, yaitu Mattirowalie, Erecinnong, dan Watangcani.
Prioritas Pendidikan dan SDM Lokal
Dalam arahannya, Bupati Bone juga menekankan pentingnya pendidikan dan pengembangan SDM di wilayah terpencil.
“Saya meminta, jangan berhenti menuntut pendidikan. Kita akan tempatkan tiga guru baru di sini, dan permintaan untuk tambahan tenaga pendidik sudah saya catat,” ucapnya.
Bupati Andi Asman juga menjanjikan dukungan bagi anak-anak Bontocani yang ingin melanjutkan pendidikan ke Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa, dengan satu syarat khusus: mereka harus kembali mengabdi di kampung halamannya.
“Kalau ada putra-putri dari tiga desa ini yang ingin sekolah penyuluh pertanian di Polbangtan Gowa, saya bantu. Tapi syaratnya, wajib kembali ke sini jadi penyuluh pertanian, peternakan, atau hortikultura.”
Selain itu, ia juga memastikan penyuluh swadaya alumni Polbangtan Gowa akan ditempatkan di Watangcani untuk mendampingi petani.
Dorong Kemandirian Ekonomi Lokal
Dalam dialog dengan masyarakat, Bupati Andi Asman mengajak warga untuk memanfaatkan potensi alam di sekitar mereka.
“Bone ini daerah lumbung pangan. Jangan ada anak putus sekolah, dan jangan lagi belanja sayur dari luar. Ayo menanam sendiri, beternak ayam,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya menjaga perputaran ekonomi di tingkat desa. “Rumah MBG yang nanti ada di sini harus belanja bahan dari wilayah ini sendiri, jangan ke luar. Supaya ekonomi masyarakat berputar di Watangcani.”
Doa dan Janji untuk Watangcani
Menutup kunjungan kerjanya, Bupati Andi Asman mengungkapkan rencana jangka panjang bagi Bontocani. Infrastruktur tetap menjadi bagian dari prioritas, tapi bertahap. Mengingat daerah lain juga harus diperhatikan.
“Doakan kami bisa merintis jalan sampai ke kantor camat, sepanjang 30 kilometer secara bertahap,” katanya. “Mobil ambulans dan fasilitas kesehatan juga akan kita tingkatkan. Layanan KTP dua minggu sekali harus datang ke sini, supaya warga tidak perlu jauh-jauh ke kecamatan, apalagi ke kota.”
Pagi itu, di tengah semangat warga dan aroma jagung panen yang semerbak, pesan Bupati Bone terasa begitu kuat: pembangunan sejati bukan hanya membangun jalan, tapi membangun manusia.
“Jagung hadir karena keringat. Jadi, keringat petani adalah berkah,” ujarnya menutup pertemuan, disambut tepuk tangan panjang dari warga Watangcani.(al)






