Trend, Soppeng-Pemerintah Kabupaten Soppeng menunjukkan komitmennya dalam menggerakkan roda ekonomi daerah melalui investasi pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Laporan keuangan per 31 Desember 2024 menjadi cermin yang jelas untuk melihat mana investasi yang sukses, mana yang perlu dibenahi, dan bagaimana strategi ke depan.
Secara total, Pemerintah Kabupaten Soppeng telah menginvestasikan modal sebesar Rp118,42 miliar di Bank Sulselbar , Perusda dan PDAM. Namun, nilai investasi permanen akhir tahun berjalan mengalami penurunan menjadi Rp100,05 miliar setelah memperhitungkan akumulasi rugi dan koreksi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa secara kolektif, investasi Pemda Soppeng di ketiga Perusahan belum selurunya memberikan keuntungan optimal.
Dalam portofolio investasi Pemerintah Soppeng, Bank Sulselbar menunjukkan kinerja investasi yang stabil dengan nilai modal Pemda total sebesar Rp 88.84 MIlyar . Selama periode 2019-2024, Bank Sulselbar tidak mencatatkan laba maupun rugi, serta tidak ada koreksi dividen. Nilai investasi permanen akhir dan nilai investasi permanen akhir tahun berjalan tetap konsisten pada angka Rp 88.84 milyar.
Berbeda dengan Bank Sulselbar, investasi pada Perusahaan Daerah (PD) menunjukkan kinerja yang dinamis dan bergelombang. Dengan modal awal Rp8,95 miliar, perusahaan ini mengalami pasang surut. Sempat terperosok dalam kerugian, hingga Rp184,72 juta, PD ini berhasil membukukan laba signifikan di tahun 2022 (Rp 339,23 juta), 2023 (Rp 1,24 miliar), dan 2024 (Rp 659,83 juta). Keberhasilan ini berdampak pada peningkatan nilai investasi Pemda dari modal awal Rp8,94 miliar menjadi Rp11,20 miliar di akhir tahun berjalan, meskipun telah dikurangi koreksi dividen.
Sementara PDAM Kabupaten Soppeng menghadapi tantangan keuangan yang paling berat. Dengan modal awal sebesar Rp 20,62 miliar, PDAM ini mencatatkan akumulasi kerugian yang sangat besar, yaitu Rp 24,37 miliar. Lebih lanjut, kerugian terus berlanjut di tahun 2021 hingga 2024, dengan kerugian terbesar tercatat pada tahun 2021 sebesar Rp 41,28 miliar. Akibatnya, nilai investasi Pemda pada PDAM ini bahkan berubah menjadi negatif. Kerugian ini menunjukkan masalah struktural yang perlu segera ditangani, baik dari sisi operasional maupun manajemen.
Data ini menunjukkan pentingnya evaluasi berkala terhadap kinerja BUMD. Bank Sulselbar memberikan stabilitas, Perusahaan Daerah Kabupaten Soppeng menunjukkan potensi pemulihan yang baik, sementara PDAM Kabupaten Soppeng membutuhkan intervensi serius.
Untuk PDAM, perlu dilakukan audit menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab utama kerugian, seperti inefisiensi operasional, piutang tak tertagih, atau tarif yang tidak sesuai.
Pemerintah Kabupaten Soppeng dapat mempertimbangkan restrukturisasi manajemen, peningkatan efisiensi, atau bahkan suntikan modal strategis dengan syarat perbaikan kinerja yang jelas.
Dengan fokus pada perbaikan BUMD yang merugi dan mengoptimalkan BUMD yang berkinerja baik, Pemerintah Kabupaten Soppeng dapat memastikan bahwa investasi yang telah ditanamkan dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di masa depan.







