Mengubah Limbah Jadi Berkah: Mahasiswa KKN Unhas Ajarkan Warga Desa Kurusumange Olah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Bokashi

Daftar Isi



Trend, Gowa – Limbah kotoran sapi yang selama ini sering dianggap sebagai masalah kebersihan, ternyata menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan.

Hal inilah yang coba diangkat oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 113 Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui sosialisasi dan demonstrasi pembuatan pupuk bokashi di Desa Kurusumange. Kegiatan ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga menjadi solusi praktis bagi petani dalam mengelola limbah ternak.

Melani Toding, koordinator kegiatan, menjelaskan bahwa kotoran sapi yang biasanya dibiarkan menumpuk atau dibuang begitu saja, sebenarnya bisa diolah menjadi pupuk bokashi yang kaya manfaat. 

"Pupuk bokashi dari kotoran sapi tidak hanya membuat tanah lebih gembur dan subur, tetapi juga meningkatkan kandungan unsur hara dan mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Selain itu, pupuk ini ramah lingkungan dan bisa mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia," papar Melani dengan semangat.

Sosialisasi ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat Desa Kurusumange, mulai dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kepala dusun, ketua RT, hingga puluhan warga yang antusias mengikuti setiap tahapan demonstrasi. Warga terlihat aktif bertanya dan berdiskusi, menunjukkan minat besar terhadap inovasi ini. 

"Kami selama ini hanya membiarkan kotoran sapi menumpuk atau menggunakannya seadanya. Ternyata, dengan teknik yang diajarkan mahasiswa, kotoran sapi bisa diolah menjadi pupuk yang sangat bermanfaat," ujar Pak Andi, salah satu warga yang hadir.

Kegiatan ini tidak hanya sekadar teori, tetapi juga dilengkapi dengan praktik langsung pembuatan pupuk bokashi. Mahasiswa KKN memandu warga step by step, mulai dari pemilihan bahan, pencampuran, hingga proses fermentasi. Warga pun diajak untuk mencoba membuat pupuk sendiri, sehingga mereka bisa langsung mempraktikkannya di rumah.

Dampak positif dari kegiatan ini sudah terlihat. Banyak warga yang mulai menyadari bahwa limbah ternak yang selama ini dianggap tidak berguna, ternyata bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. 

"Ini adalah langkah kecil yang bisa membawa perubahan besar bagi pertanian kami. Selain lebih ramah lingkungan, pupuk bokashi juga bisa menghemat biaya pembelian pupuk kimia," tutur Ibu Sari, salah satu peserta sosialisasi.

Melani menutup kegiatan dengan harapan besar. "Kami berharap inovasi ini tidak berhenti di sini. Semoga warga Desa Kurusumange bisa menerapkan pembuatan pupuk bokashi secara berkelanjutan, sehingga pertanian di sini menjadi lebih produktif dan ramah lingkungan," ujarnya.

Dengan adanya kegiatan ini, Desa Kurusumange tidak hanya mendapatkan solusi untuk mengelola limbah ternak, tetapi juga membuka peluang baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pertanian organik yang berkelanjutan. Inovasi sederhana ini membuktikan bahwa dengan kreativitas dan kolaborasi, limbah bisa diubah menjadi berkah.
Artikel ini telah dibaca sebanyak kali