BupAAS Bidik PAD Triliunan Rupiah dari Sawah Tadah Hujan Bone

Berita Utama198 Dilihat

BONE,TRENDSULSEL–Selama ini, sawah tadah hujan identik dengan ketidakpastian. Ketika hujan datang, petani menanam. Saat kemarau lebih panjang, lahan bisa terpaksa dibiarkan mengering.

Namun, Pemerintah Kabupaten Bone di bawah kepemimpinan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., ingin mengubah wajah pertanian tadah hujan tersebut.

Lahan yang selama ini bergantung pada kemurahan langit itu disiapkan menjadi lahan produktif sepanjang musim sekaligus memiliki kontribusi terhadap peningkatan pendapatan daerah.

BupAAS menyiapkan pola kerja sama dengan petani melalui penyediaan embung, sumur bor dan alat mesin pertanian (alsintan). Fasilitas tersebut akan diberikan kepada kelompok atau petani sasaran melalui perjanjian kerja sama dengan masa pengelolaan selama tiga tahun.

“Petani kita, khususnya petani tadah hujan, harus kita berikan solusi. Pemerintah hadir dengan menyediakan embung, sumur bor dan alsintan melalui pola kerja sama yang jelas,” ujar Bupati Bone, Kamis (1/10/2026).

Konsep yang disiapkan tidak berhenti pada pemberian bantuan. Pemerintah daerah ingin membangun sebuah ekosistem pertanian yang memungkinkan petani meningkatkan produktivitas sekaligus membuat lahan tadah hujan dapat digarap lebih dari satu musim tanam.

MT 1 untuk Petani, MT 2 dan 3 Bagi Hasil

Salah satu bagian penting dari skema tersebut adalah pola pembagian hasil.

Bupati menjelaskan, pada Musim Tanam (MT) 1, hasil produksi akan sepenuhnya menjadi milik petani. Sementara pada MT 2 dan MT 3, hasilnya akan menggunakan pola bagi hasil antara petani dan pemerintah daerah sesuai perjanjian kerja sama.

“Jadi nantinya hasil untuk MT 1 semua diambil petani. Nanti untuk MT 2 dan 3 baru bagi hasilnya ke petani,” jelasnya.

Dengan pola tersebut, pemerintah berharap petani terlebih dahulu merasakan manfaat langsung dari fasilitas yang diberikan. Setelah produktivitas meningkat dan sistem berjalan, barulah pola kerja sama bagi hasil diterapkan.

Potensi Produksi Triliunan Rupiah

BupAAS melihat potensi ekonomi dari lahan pertanian Bone sangat besar.

Dengan asumsi produksi mencapai sekitar 8 ton gabah per hektare dan harga gabah berada pada kisaran Rp6.500 per kilogram, maka pendapatan yang dihasilkan untuk satu hektare Rp52 juta dalam satu kali panen.

“Potensi pertanian kita sangat besar. Kalau satu hektare bisa menghasilkan sekitar delapan ton dengan harga Rp6.500 per kilogram, nilai produksinya sekitar Rp52 juta satu kali panen,” katanya.

Jika produktivitas tersebut dapat diterapkan pada lahan tadah hujan dalam skala luas dan dikelola melalui beberapa musim tanam, nilai ekonomi yang berputar di sektor pertanian Bone berpotensi mencapai triliunan rupiah.

Karena itu, Pemkab Bone melihat pengembangan sawah tadah hujan bukan sekadar program pertanian, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat perekonomian daerah dan membuka potensi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Bayangkan kalau ini kita kembangkan di lahan yang luas, tentu perputaran ekonomi masyarakat akan semakin besar,” tutur Bupati.

Tak Hanya Alsintan, Petani Juga Didampingi

Untuk memastikan program berjalan di lapangan, Pemkab Bone juga menyiapkan pendampingan bagi petani.

Tenaga PPPK akan diberdayakan untuk mendampingi petani mulai dari pascatanam, pengolahan lahan hingga masa panen.

Artinya, pemerintah tidak hanya menghadirkan alat dan infrastruktur, tetapi juga pendampingan agar teknologi dan fasilitas yang diberikan benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas.

“PPPK akan kita berdayakan untuk melakukan pendampingan kepada petani. Mulai dari pascatanam, pengolahan sampai panen. Jadi bukan hanya memberikan fasilitas, tetapi petani juga harus didampingi,” kata BupAAS.

Selain dukungan produksi, petani dalam program tersebut juga direncanakan mendapatkan perlindungan melalui BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Skema itu membuat program tidak hanya berbicara tentang berapa ton gabah yang dihasilkan, tetapi juga menyentuh aspek perlindungan dan kesejahteraan petani.

Petani: Program yang Selama Ini Dinanti

Rencana tersebut mendapat apresiasi dari petani. H. Manrapi, salah seorang petani, menilai program yang disiapkan Bupati Bone menjawab persoalan mendasar yang selama ini dihadapi petani tadah hujan, terutama keterbatasan air dan sarana produksi.

Menurutnya, keberadaan embung, sumur bor dan alsintan dapat memberikan peluang bagi petani untuk tidak lagi hanya menunggu datangnya hujan.

“Kami sebagai petani tentu sangat bersyukur dengan program seperti ini. Selama ini sawah tadah hujan sangat bergantung pada hujan. Kalau air tersedia dan alsintan disiapkan, kami bisa lebih yakin mengolah lahan dan meningkatkan produksi,” ujar H. Manrapi.

Ia juga mengapresiasi skema yang memberikan kesempatan kepada petani menikmati hasil pada musim tanam pertama.

“Yang paling kami apresiasi, MT 1 hasilnya untuk petani. Ini menunjukkan pemerintah tidak hanya meminta petani bekerja, tetapi terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada petani untuk merasakan hasilnya. Kalau produksi meningkat, kami juga siap bekerja sama dengan pemerintah untuk musim tanam berikutnya,” katanya.

H. Manrapi berharap program tersebut dapat dilaksanakan secara konsisten dan menjangkau semakin banyak petani tadah hujan di Bone.

“Kami melihat ini sebagai program yang punya masa depan. Kalau air tersedia, alat tersedia dan ada pendampingan, sawah tadah hujan yang selama ini hanya bisa ditanami pada waktu tertentu bisa menjadi lahan yang produktif. Kami mendukung langkah Bupati Bone karena arahnya jelas, bagaimana petani sejahtera dan pertanian Bone semakin maju,” tuturnya.

Bagi BupAAS, kunci dari seluruh gagasan tersebut adalah membangun sistem.

Penyediaan air, mekanisasi, pendampingan, produksi hingga pengelolaan hasil harus berjalan dalam satu rantai yang saling terhubung.

Dengan demikian, sawah tadah hujan tidak lagi sekadar menjadi lahan yang menunggu hujan, tetapi dapat berubah menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat pedesaan sekaligus bagian dari strategi besar pembangunan pertanian Kabupaten Bone.

“Petani kita harus diberikan solusi. Pemerintah hadir bukan hanya memberikan fasilitas, tetapi membangun sistem agar pertanian kita produktif, mandiri dan berkelanjutan,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *