Harmoni Perbedaan Bergema di Panggung Konser Lintas Agama Di Bone

Berita Utama970 Dilihat

 

BONE,TRENDSULSEL–Pagelaran Konser Lintas Agama bertema “Keberagaman Agama dalam Harmoni Budaya” menjadi momentum penting bagi tumbuhnya ruang dialog budaya di Kabupaten Bone, (14/2/2026)

Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai perbedaan identitas, panggung yang berdiri di Lapangan Merdeka Watampone justru menghadirkan pesan sebaliknya: keberagaman layak dirawat dan dirayakan melalui seni.

Menjelang malam, ribuan warga dari berbagai latar usia dan keyakinan memadati kawasan tersebut. Mereka hadir bukan hanya untuk menikmati hiburan, tetapi untuk menyaksikan kolaborasi lintas iman yang menghadirkan suasana kebersamaan. Nuansa yang tercipta terasa hangat dan menyentuh, melampaui sekadar tontonan.

Penampilan Orkestra Santri Al Ikhlas Ujung membuka ruang refleksi lewat aransemen yang memadukan unsur religius dan kearifan lokal. Gesekan biola, hembusan alat musik tiup, serta ritme perkusi tradisional berpadu menciptakan harmoni yang kuat.

Sementara itu, paduan suara lintas agama membawakan lagu-lagu bertema persatuan, budaya, dan persaudaraan, mempertegas bahwa iman dan tradisi dapat berjalan selaras tanpa meniadakan identitas masing-masing.

Suasana semakin semarak dengan penampilan Saoraja Art, Unilampa, dan Ninu-Ninu yang menghadirkan eksplorasi seni tradisional bernuansa modern. Gerak tari yang dinamis, busana etnik, serta tata panggung yang tertata rapi menunjukkan bahwa kebudayaan Bone terus berkembang secara inklusif dan adaptif.

Konser kolaboratif ini melibatkan komunitas lintas agama, seniman, akademisi, pemuda, serta masyarakat umum dalam satu ruang kreatif. Seni menjadi jembatan dialog sosial yang mempertemukan beragam latar belakang tanpa sekat. Tepuk tangan yang bergema setiap akhir penampilan menjadi bukti antusiasme dan apresiasi publik.

Penggagas kegiatan, Dr. Sn. Ichsan, S.Pd., M.Sn, menyampaikan bahwa konser tersebut dirancang sebagai wadah perjumpaan yang tulus dan terbuka. Ia menilai seni memiliki daya transformasi untuk menjaga kebinekaan dan memperkuat solidaritas sosial. Menurutnya, perbedaan adalah kenyataan yang harus dikelola melalui pendekatan budaya.

“Harmoni tidak lahir karena semua nada sama, tetapi karena perbedaan itu disatukan dengan kesadaran dan saling menghargai,” ujarnya.

Bagi masyarakat Bone, malam itu menjadi pengingat bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan sikap yang dapat diwujudkan bersama. Lapangan Merdeka pun menjadi saksi bahwa kebersamaan dapat tumbuh ketika seni, iman, dan budaya bertemu dalam satu panggung.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed