Ketika Upah Tak Kunjung Datang, Jalan Kaki Jadi Pilihan: Kisah Pahit Pekerja Bone Ke Makassar

Berita Utama273 Dilihat

BONE,TRENDSULSEL–Di tengah ramainya wacana pemerintah pusat menaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2026, enam pekerja irigasi di Kabupaten Bone justru harus menelan kenyataan pahit. Dua pekan tanpa bayaran, mereka nekat menempuh perjalanan darat sejauh 175 kilometer menuju Kota Makassar dengan berjalan kaki.

Kisah ini mencuat setelah video mereka viral di media sosial. Dalam rekaman yang diunggah anggota DPRD Bone, Andi Muhammad Salam, atau yang akrab disapa Lilo AK, terlihat enam pria berpeluh, menapaki jalan poros Bone – Makassar.
Tas lusuh tersampir di punggung, langkah mereka berat namun pasti. Tak ada kendaraan, tak ada bekal cukup, hanya tekad untuk pulang setelah kerja keras yang tak dihargai.

“Saya lihat mereka di Desa Sappewalie, Kecamatan Ulaweng, waktu saya juga dalam perjalanan ke Makassar,” cerita Lilo saat dikonfirmasi, Senin (17/11/2025).
“Saya tanya dari mana, mereka jawab dari Bone, mau pulang ke rumah di Ratulangi Makassar. Sudah dua minggu tidak digaji oleh bosnya.”

Mendengar kisah itu, Lilo mengaku tak tega. Ia akhirnya menghentikan mobilnya dan memberi tumpangan.

“Kasihan sekali, mereka cuma mau pulang. Jadi saya ajak sekalian ke Makassar,” ujarnya.

Menurut pengakuan para pekerja kepada Lilo, proyek irigasi yang mereka kerjakan berada di sekitar Taman Makam Pahlawan (TMP) Bone. Mereka direkrut oleh seorang mandor yang menjanjikan pembayaran setelah pekerjaan rampung. Namun saat tiba waktunya, sang mandor justru berpamitan untuk menarik uang gaji ke kota dan tak pernah kembali.

“Mereka bilang bosnya lari. Izin mau ambil uang gaji tapi hilang begitu saja. Nomornya juga tidak aktif,” lanjut Lilo Ak.

Tak punya uang untuk makan, apalagi ongkos pulang, mereka akhirnya mengambil keputusan ekstrem: berjalan kaki.
Dengan sisa tenaga dan harapan, mereka menapaki aspal panas di bawah terik matahari Sulawesi Selatan. Dari Watampone menuju Makassar, jarak yang membentang sejauh 175 kilometer terasa seperti ujian hidup yang tak berkesudahan.

Bagi Lilo, pertemuan itu menjadi tamparan realitas. “Saya prihatin sekali. Ini bukan sekadar soal upah, tapi soal kemanusiaan. Pekerja seperti mereka sering jadi korban sistem yang tidak berpihak,” katanya.

Kini, publik menantikan kejelasan siapa yang harus bertanggung jawab. Sementara itu, enam pekerja tersebut akhirnya tiba dengan selamat di Makassar, bukan berkat upah yang mereka terima, tetapi karena uluran tangan seseorang yang tergerak hatinya di jalan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *