Maloro Lopi Tanete Riattang Timur, Potret Gotong Royong Masyarakat Pesisir Bone Di Gau Maraja

Berita Utama116 Dilihat

BONE,TRENDSULSEL–Kehidupan masyarakat pesisir Tanete Riattang Timur diangkat dalam sebuah pertunjukan budaya melalui tradisi Maloro Lopi pada Karnaval Budaya rangkaian Gau Maraja 2026 di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Tradisi yang bermakna sebagai prosesi mendorong perahu itu menjadi salah satu atraksi yang menarik perhatian masyarakat saat karnaval berlangsung di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Bone, Jalan Petta Ponggawae, Kecamatan Tanete Riattang, Minggu (27/9/2026).Karnaval tersebut diikuti oleh perwakilan 27 kecamatan.

Masing-masing daerah membawa identitas budaya, tradisi, serta kekhasan masyarakatnya untuk ditampilkan dalam rangkaian perhelatan Gau Maraja 2026.
Kecamatan Tanete Riattang Timur memilih Maloro Lopi sebagai representasi kehidupan masyarakat yang sejak dahulu memiliki keterikatan kuat dengan laut.

Dalam prosesi tersebut, perjalanan sebuah perahu menuju laut digambarkan melalui sejumlah tokoh. Punggawa Lopi berperan sebagai pemilik perahu, sementara Juragan Lopi menjadi pemimpin pelayaran. Adapun Sandro Lopi tampil sebagai sosok yang memimpin doa untuk memohon keselamatan dan keberkahan.
Nuansa ritual semakin terasa ketika prosesi diiringi Pabbarasanji dengan lantunan Barasanji.

Padoko kemudian hadir membawa sejumlah bekal dan perlengkapan persembahan. Di antaranya onde-onde, sokko lotong, sokko putih, bella lawo, pisang goreng, pisang tandang, pisang nisi, pisang manurung, ayam likku, kelapa muda hingga telur masak.

Ragam makanan tersebut tidak sekadar menjadi pelengkap pertunjukan. Dalam tradisi masyarakat pesisir, bekal itu menggambarkan rasa syukur sekaligus doa dan harapan sebelum para nelayan berangkat mencari rezeki di laut.

Puncak pertunjukan ditandai dengan prosesi Paloro Lopi bersama para awak yang mendorong perahu. Adegan tersebut menggambarkan kekompakan masyarakat pesisir ketika mempersiapkan keberangkatan nelayan menuju laut.

Camat Tanete Riattang Timur, Andi Habibie, menjelaskan bahwa Maloro Lopi sengaja diangkat karena memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat di wilayahnya.

Baca Juga :  Bupati Bone Dorong Festival Gau Maraja 2026 Libatkan Seluruh Pelaku Seni dan Budaya

Menurutnya, panggung Gau Maraja menjadi kesempatan untuk memperkenalkan tradisi tersebut kepada khalayak sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga warisan budaya lokal.

“Kita ingin menunjukkan bahwa Tanete Riattang Timur memiliki budaya dan tradisi masyarakat pesisir yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Maloro Lopi ini bukan hanya sebuah pertunjukan, tetapi menggambarkan semangat kebersamaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Andi Habibie.

Ia juga menilai keterlibatan generasi muda sangat penting agar tradisi masyarakat pesisir tetap dikenal dan tidak terputus oleh perubahan zaman.

“Harapan kita, generasi muda bisa mengenal dan mencintai budaya sendiri. Jangan sampai tradisi yang menjadi identitas masyarakat pesisir hilang karena perkembangan zaman,” katanya.

Selain menggambarkan aktivitas melaut, pertunjukan Maloro Lopi membawa pesan mengenai pentingnya gotong royong, ketahanan pangan, serta keberlangsungan hasil laut yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tanete Riattang Timur.

Konsep pertunjukan diperkuat dengan kehadiran Putri Laut Tangkulara. Sosok tersebut ditampilkan sebagai simbol kekuatan, keindahan sekaligus kekayaan laut yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir.

Setelah prosesi Maloro Lopi, penampilan dilanjutkan dengan tari kolosal. Gerakan para penari menggambarkan dinamika gelombang laut, semangat para nelayan saat melaut, serta doa dan harapan keluarga yang menanti kepulangan mereka.

Andi Habibie menyebut pertunjukan tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kecamatan Tanete Riattang Timur bersama Sanggar Seni Budaya Yayasan Andi Sudirman.

“Persembahan Maloro Lopi merupakan kolaborasi Pemerintah Kecamatan Tanete Riattang Timur bersama Sanggar Seni Budaya Yayasan Andi Sudirman,” jelasnya.

Menurutnya, pertunjukan itu tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga menyampaikan cerita mengenai kehidupan masyarakat pesisir yang diwariskan secara turun-temurun.

“Maloro Lopi bukan sekadar prosesi mendorong perahu menuju laut. Tradisi ini menjadi gambaran tentang doa, gotong royong, perjuangan mencari rezeki dan harapan masyarakat pesisir,” tandasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *