Sepakat Perkuat Kerjasama, Tarakan Butuh Ribuan Sapi, Bone Siap Isi Pasar Kalimantan Utara

Berita Utama258 Dilihat

BONE,TRENDSULSEL–Di satu sisi ada daerah dengan hamparan lahan dan populasi sapi yang melimpah. Di sisi lain, ada kota yang membutuhkan pasokan pangan dari luar daerah.

Pertemuan dua kebutuhan itu kini membuka peluang baru bagi peternak sapi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Pemerintah Kota Tarakan, Kalimantan Utara, membuka kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bone untuk memperkuat pasokan sapi dan daging ke daerah tersebut.

Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., dan Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul Saleh, M.Kes., di Ruang Gubernur Rumah Jabatan Bupati Bone, Senin (7/9/2026).

Bagi Bone, kerja sama tersebut bukan sekadar hubungan antarpemerintah daerah. Ada peluang pasar yang terbuka lebar bagi peternak.

Sementara bagi Tarakan, Bone dapat menjadi salah satu sumber pasokan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi yang selama ini banyak didatangkan dari luar daerah.

Wali Kota Tarakan, dr. Khairul Saleh, mengatakan kondisi geografis membuat daerah yang dipimpinnya masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain.

“Tarakan tergantung dari luar untuk pangan. Luas wilayahnya kecil, tidak besar. Selama ini memasok dari Jawa dan Sulawesi,” ujar Khairul.

Untuk kebutuhan daging sapi, Tarakan selama ini memperoleh pasokan dari sejumlah daerah, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Gorontalo.

Namun, Bone dinilai memiliki posisi yang strategis untuk menjadi salah satu pemasok.

Selain memiliki populasi sapi yang besar, jarak geografis Bone dengan Tarakan juga dinilai cukup mendukung kerja sama perdagangan tersebut.

“Kita lihat dari segi geografis Bone dekat dengan Tarakan dan Bone ini merupakan salah satu sentra sapi. Maka kita membuka kerja sama dengan Bone. Bisa saling membackup,” jelasnya.

Kebutuhan Ribuan Ekor Sapi
Besarnya peluang pasar tersebut terlihat dari kebutuhan sapi di Tarakan.

Dalam setahun, kebutuhan daging sapi di daerah itu diperkirakan mencapai sekitar 460 ton, atau setara dengan sekitar 3.000 hingga 4.000 ekor sapi.

Jumlah itu tentu bukan pasar kecil bagi peternak Bone.
Karena itu, Pemkot Tarakan berharap Bone dapat mengambil porsi pasokan sebesar mungkin.

“Kita berharap suplai sapi untuk Tarakan bisa terpenuhi. Kebutuhan sapi sekitar 460 ton atau 3 ribu sampai 4 ribu ekor. Kita berharap sebanyak-banyaknya kuota Bone,” tegas Khairul.

Harapan tersebut sekaligus menjadi peluang bagi Bone untuk memperluas pasar ternaknya yang selama ini telah menjangkau berbagai daerah di luar Sulawesi Selatan.

Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman menyambut kerja sama tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan sektor peternakan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bone memang memiliki modal besar.

Daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi di Sulawesi Selatan. Bahkan, menurut Andi Asman, terdapat kecamatan di Bone yang memiliki populasi sapi sangat padat.

“Bone populasi ternaknya tertinggi di Sulsel. Bahkan ada kecamatan di Bone yang lebih padat sapinya daripada orangnya,” ujar Andi Asman Sulaiman.

Namun, bagi Bupati, besarnya populasi belum cukup.
Populasi harus diubah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat, khususnya peternak.

Karena itu, Pemkab Bone mulai menggeser orientasi pengembangan peternakan dari sekadar mengejar jumlah ternak menjadi peningkatan kualitas dan penguatan ekosistem peternakan.

Sebelumnya, Pemkab Bone juga telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Peternakan. Upaya tersebut mendapat respons positif melalui dukungan hibah sapi Bali untuk dikembangkan di Bone.

“Alhamdulillah direspons dengan adanya hibah sapi Bali. Kami sudah kembangkan di Bone,” katanya.

Di balik besarnya potensi sapi Bone, Andi Asman juga melihat persoalan yang selama ini kerap dihadapi peternak.

Sapi yang dipelihara bertahun-tahun terkadang harus dijual ketika peternak membutuhkan uang secara mendesak.Dalam kondisi seperti itu, peternak tidak selalu memiliki posisi tawar yang kuat.

“Biasanya masyarakat setelah memelihara sapi terkadang tidak melihat nilai. Tetapi ketika sudah terdesak, biasanya langsung dijual meski harganya rendah. Jadi yang untung pedagang,” ungkapnya.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Pemkab Bone.
Pemerintah ingin membangun sistem peternakan yang memungkinkan peternak memperoleh nilai ekonomi lebih besar dari sapi yang mereka pelihara.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperkuat pelayanan kesehatan hewan melalui rencana pembangunan Puskeswan Desa (Puskeswandes).

Di sisi lain, Bone juga terus mengembangkan inovasi PAJASA, yakni integrasi Padi, Jagung dan Sapi.

Konsep tersebut menghubungkan sektor tanaman pangan dan peternakan dalam satu ekosistem. Limbah dan hasil pertanian dapat dimanfaatkan untuk mendukung peternakan, sementara sektor peternakan juga memberikan manfaat bagi pertanian.

Dengan pola tersebut, sapi tidak hanya dipandang sebagai ternak yang dijual ketika membutuhkan uang, tetapi sebagai bagian dari sistem ekonomi pertanian yang berkelanjutan.

Pasar Baru untuk Peternak Bone
Potensi pasar sapi Bone sebenarnya bukan hal baru.

Selama ini, sapi asal Bone telah dikirim ke berbagai daerah, terutama untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban menjelang Idul Adha.

“Bone juga menjadi pemasok sapi terbesar ke luar daerah untuk kebutuhan kurban Idul Adha,” kata Andi Asman Sulaiman.

Kerja sama dengan Tarakan kini membuka pintu pasar yang lebih luas.

Dengan kebutuhan sekitar 3.000 hingga 4.000 ekor sapi, pasar Tarakan dapat menjadi tujuan baru bagi pengembangan usaha peternakan masyarakat Bone.
Namun, Bupati menegaskan bahwa orientasi pemerintah tidak berhenti pada banyaknya sapi yang bisa dikirim.

“Kita berkomitmen tidak melihat populasi saja, tetapi kita ingin kualitas,” tegas Andi Asman.

Artinya, peluang pasar tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kualitas ternak, kesehatan hewan, tata niaga, hingga kemampuan peternak memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.

Tarakan Tak Ingin Hanya Membeli
Kerja sama ini juga tidak hanya berbicara tentang jual beli sapi.

Wali Kota Tarakan berharap hubungan dengan Bone berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas, termasuk transfer pengetahuan dan pendampingan.

Tarakan, kata Khairul, juga ingin secara bertahap membangun sektor peternakannya sendiri.
“Sembari kita berharap juga ada bimbingan ke depan agar Tarakan ini punya peternakan juga,” tandasnya.

Di titik inilah kerja sama Bone dan Tarakan memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh.
Bone membawa kekuatan produksi dan pengalaman dalam pengembangan sapi. Tarakan membawa kebutuhan pasar yang besar sekaligus keinginan untuk membangun sektor peternakan sendiri.

Jika ditindaklanjuti secara konkret, MoU tersebut bukan hanya menjadi dokumen kerja sama antarpemerintah daerah.

Lebih dari itu, kerja sama ini bisa menjadi jembatan perdagangan sapi lintas pulau yang mempertemukan peternak Bone dengan pasar Kalimantan Utara.
Bone punya sapi.

Tantangannya kini adalah memastikan peluang tersebut benar-benar sampai ke kandang-kandang peternak dan berubah menjadi peningkatan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *