Nenek di Bone Soroti Dugaan Lambatnya Penanganan Medis, Bayi Meninggal dalam Kandungan

Berita Utama251 Dilihat

BONE,TRENDSULSEL–Keluarga bayi laki-laki yang meninggal dalam kandungan di RSUD Tenriawaru, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mempertanyakan proses penanganan medis terhadap ibu bayi yang disebut mengalami penurunan kondisi sebelum akhirnya menjalani operasi.

Nenek bayi, Rahmawati, mengaku kecewa dan meminta pihak rumah sakit memberikan penjelasan mengenai kronologi serta pertimbangan medis selama menantunya menjalani perawatan.

Hal itu disampaikan Rahmawati saat menggelar konferensi pers di kediamannya di Jalan Hos Cokroaminoto, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, Kamis (15/10/2026). Ia didampingi ayah bayi, Andi Muhammad Aldiansyah.

Dengan penuh kesedihan, Rahmawati menceritakan pengalaman keluarganya selama mendampingi menantunya menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Menurut Rahmawati, menantunya sebelumnya telah beberapa kali dirawat setelah mengalami kontraksi dan keluhan kesehatan lainnya. Pada perawatan awal, pasien sempat menjalani perawatan selama dua hingga tiga hari sebelum diperbolehkan pulang.

Beberapa waktu kemudian, pasien kembali dirawat karena mengalami sakit perut yang disertai muntah dan diare.

Kondisi pasien disebut kembali mengkhawatirkan ketika mengalami kram perut disertai keluarnya darah dan lendir.

Rahmawati mengaku telah meminta perawat menyampaikan kondisi tersebut kepada dokter yang menangani. Namun, menurut pengakuannya, keluarga belum mendapatkan respons dokter saat berusaha menghubunginya.

Keluarga juga menyebut pasien sempat diberikan obat pereda nyeri. Meski demikian, rasa sakit yang dialami disebut tidak kunjung mereda sepanjang malam.

Melihat kondisi menantunya yang terus kesakitan, Rahmawati mengaku mempertanyakan alasan tindakan operasi belum dilakukan ketika keluhan pasien semakin berat.

Menurut penuturan keluarga, mereka mendapat penjelasan bahwa berat badan bayi saat itu belum mencapai dua kilogram.
Pada pagi harinya, Rahmawati kembali menghubungi dokter melalui pesan WhatsApp untuk menanyakan kondisi menantunya sekaligus meminta petunjuk medis.

Baca Juga :  Antre BBM di SPBU Labuaja, Pria 57 Tahun Diduga Dianiaya Usai Salah Paham

Dalam perkembangan berikutnya, keluarga menyebut air ketuban pasien pecah dan detak jantung bayi mengalami penurunan sebelum pasien dibawa ke ruang operasi.

Ayah bayi, Andi Muhammad Aldiansyah, mengatakan detak jantung bayi sempat disebut meningkat hingga 160 kali per menit, sebelum kemudian turun menjadi sekitar 80 kali per menit.
Pasien selanjutnya dibawa ke ruang operasi. Namun, bayi laki-laki tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dalam kandungan.

Atas kejadian itu, Rahmawati meminta pihak RSUD Tenriawaru dan dokter yang menangani memberikan penjelasan terbuka mengenai kronologi penanganan serta pertimbangan medis yang diambil selama pasien menjalani perawatan.

“Kalau ajal namanya semua pasti meninggal. Tidak ada yang bisa menolak kematian. Tapi saya kecewa karena ada proses yang saya anggap lambat,” kata Rahmawati.

Ia menegaskan, kekecewaan keluarga bukan semata-mata karena kehilangan cucunya, melainkan juga karena adanya pertanyaan mengenai respons tenaga medis ketika kondisi pasien disebut semakin memburuk.

“Saya kecewa karena ada proses yang lambat, terutama merespons pasien yang membutuhkan perhatian khusus seperti ini. Kondisinya memang sudah sangat tidak normal,” ujarnya.

Rahmawati mengatakan, keluarga ingin mengetahui alasan medis di balik penanganan yang diberikan, terutama terkait kondisi pasien sebelum akhirnya dilakukan operasi.

“Saya tunggu klarifikasi dari pihak rumah sakit dan pihak dokter yang menangani. Saya mau tahu apa alasannya, alasan medisnya apa,” katanya.

Terkait kemungkinan menempuh jalur hukum, Rahmawati menyebut keluarga belum mengambil keputusan. Langkah tersebut, kata dia, akan dipertimbangkan setelah memperoleh penjelasan dari pihak-pihak terkait.

“Untuk langkah hukum, nanti saya pertimbangkan kembali setelah mengetahui semua penjelasan dari pihak-pihak terkait,” ujarnya.

Sementara itu, pihak RSUD Tenriawaru saat dikonfirmasi terkait kejadian tersebut belum memberikan respons.

Baca Juga :  Gempa M 7,7 Guncang Nagekeo, Bone Masuk Wilayah Waspada Tsunami

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak rumah sakit mengenai kronologi penanganan pasien, pertimbangan tindakan medis, maupun penyebab bayi meninggal dalam kandungan.

Dugaan keterlambatan penanganan tersebut masih berdasarkan keterangan keluarga dan belum mendapat penjelasan resmi dari pihak rumah sakit.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *