Studi Tiru ke Bali, Bupati Bone Siapkan PAJASA untuk Dongkrak Nilai Tambah Padi, Jagung dan Sapi

Berita Utama581 Dilihat

BALI,TRENDSULSEL–Pemerintah Kabupaten Bone mulai menyiapkan konsep besar pengembangan sektor pertanian dan peternakan melalui inovasi PAJASA (Padi, Jagung, Sapi).

Konsep ini diarahkan untuk tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga menata pengelolaan komoditas dari hulu hingga hilir agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Gagasan tersebut disampaikan Bupati Bone saat melakukan studi tiru ke Bali.

Hari pertama, bupati bersama rombongan meninjau sentra peternakan sapi Bali di BPTU-HPT Pulukan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali, Jumat (21/8/2026).

Kunjungan itu menjadi bagian dari upaya Pemkab Bone mempelajari model pengembangan dan pembibitan sapi Bali yang dapat diterapkan di Kabupaten Bone.

Bupati Bone didampingi Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si., serta Kepala BPTU-HPT Denpasar, drh. I Gusti Putu Ngurah Raka.

Rombongan juga terdiri dari Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bone Andi Herman, Plt. Kepala Dinas Pertanian Nurdin, Kepala BKPSDM Bone Edy Saputra Syam, Direktur RSUD Datu Pancaitana H. Rostang, Kepala Dinas Bina Marga H. Askar, serta Direktur PDAM Bone Muh. Bachtiar Sairing.

BPTU-HPT Pulukan merupakan salah satu kawasan pengembangan dan pembibitan sapi Bali. Di kawasan tersebut terdapat sekitar 1.200 ekor sapi Bali yang dikembangkan pada lahan kurang lebih 1.002 hektare.

Bupati Bone menilai, pengalaman pengelolaan peternakan di Pulukan dapat menjadi referensi penting bagi Bone untuk membangun sektor peternakan secara lebih terintegrasi.

Menurutnya, konsep PAJASA akan menghubungkan potensi padi, jagung dan sapi sebagai satu ekosistem ekonomi. Produksi padi dan jagung didorong agar semakin optimal, sementara hasil pertanian dapat mendukung kebutuhan pakan ternak.

“Setelah padi dan jagung produksinya terbaik, kita tata dari hulu sampai hilir. Khusus ternak besar, ke depan harapan kita Bone bisa menjadi daerah dengan populasi sapi terbesar. Hilirisasinya juga kita atur,” ujar Bupati Bone.

Baca Juga :  Hadiri Rakor Di Kementan RI, Bupati Andi Asman Komitmen Jadikan Bone Lumbung Pangan Unggulan

Ia mencontohkan, hilirisasi sapi tidak semata-mata menjual ternak dalam kondisi hidup keluar daerah. Bone ke depan diharapkan mampu mengembangkan industri pengolahan sehingga nilai ekonomi dari setiap bagian ternak dapat dinikmati di daerah.

“Sapi yang keluar dari Bone ke depan harapan kita tidak lagi dalam keadaan hidup. Kita ingin hasilnya diolah di Bone. Kepala bisa menjadi bahan bakso atau produk olahan lainnya, kulit menjadi tas, tulang untuk konro, ekor untuk sup buntut, dan berbagai produk lainnya,” jelasnya.

Bahkan bupati ingin daging sapi dari Bone di ekspor ke luar negeri.

Konsep tersebut, kata Bupati, akan menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang sekaligus membuka lapangan usaha baru bagi masyarakat.

Tidak hanya meningkatkan populasi sapi, Pemkab Bone juga ingin memastikan adanya ekosistem usaha yang melibatkan peternak, pelaku UMKM, industri pengolahan, hingga pemasaran.

Bupati Bone menegaskan, potensi Bone sangat besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra sapi Bali di kawasan Indonesia Timur. Ketersediaan lahan, potensi pertanian dan jumlah peternak menjadi modal penting untuk mewujudkan target tersebut.

“Kita tidak ingin hanya besar di populasi. Kita ingin besar juga dalam produksi, pengolahan dan nilai tambah. Inilah yang kita dorong melalui inovasi PAJASA, Padi, Jagung, Sapi,” tegasnya.
Dengan konsep tersebut, Pemkab Bone mulai mengarahkan pembangunan pertanian dan peternakan pada pola yang terintegrasi, produktif dan berorientasi hilirisasi.

PAJASA diharapkan menjadi salah satu inovasi yang mampu menggerakkan ekonomi Bone dari sektor pertanian dan peternakan, sekaligus menjadikan daerah ini sebagai salah satu pusat produksi dan pengolahan sapi Bali di Indonesia Timur.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *