trend, Soppeng – Di balik megahnya fasilitas kesehatan di Kabupaten Soppeng, terdapat sebuah keberhasilan manajemen yang jarang tersorot namun berdampak besar. Dalam Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Suwardi-Selle, terungkap bahwa sektor kesehatan Soppeng tengah mengalami transformasi besar, terutama dalam hal efisiensi dan aksesibilitas layanan.
Salah satu capaian yang paling mencengangkan adalah keberhasilan Pemerintah Kabupaten Soppeng dalam menekan defisit anggaran BLUD RSUD Latemmamala. Pada akhir tahun 2024, rumah sakit kebanggaan warga Soppeng ini sempat terbebani defisit sebesar Rp18,8 miliar.
Namun, melalui kepemimpinan Bupati H. Suwardi Haseng dan Wabup Selle KS Dalle, dilakukan pembenahan sistemik secara radikal. Dengan mengimplementasikan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM-RS) yang lebih terintegrasi dan optimalisasi antrean JKN Online, kebocoran anggaran berhasil ditutup. Hasilnya, di akhir tahun 2025, angka defisit merosot tajam menjadi hanya Rp3,7 miliar.
”Kita tidak hanya bicara soal mengobati pasien, tapi juga ‘mengobati’ manajemennya. Dengan sistem digital, ketersediaan obat terpantau real-time dan pelayanan jauh lebih transparan,” ujar Bupati Suwardi Haseng dalam sambutannya pada rekfleksi 1 tahunnya di Rumah Jabatan Bupati, Minggu (22/2/2026).
Selain pembenahan internal, keberpihakan anggaran terhadap masyarakat kecil terlihat jelas melalui alokasi dana sebesar Rp28,2 miliar untuk mendukung program Universal Health Coverage (UHC) Non-Cut Off.
Kebijakan ini menjadi oase bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan medis mendesak namun terkendala administrasi BPJS. Dengan status Non-Cut Off, warga Soppeng yang mendaftarkan diri bisa langsung mendapatkan layanan aktif tanpa harus menunggu masa aktivasi 14 hari. Ini adalah wujud nyata dari semboyan “Kesehatan Tanpa Sekat” yang diusung pemerintah daerah.
Layanan kesehatan dasar di tingkat kecamatan pun tak luput dari perhatian. Pemkab Soppeng mulai mengimplementasikan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di berbagai Puskesmas guna menyambut regulasi baru JKN. Selain itu, pembangunan Unit Transfusi Darah (UTD) mandiri menjadi langkah strategis untuk memastikan stok darah selalu tersedia tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pengiriman dari luar daerah.
”Tujuan kita satu, yaitu mewujudkan ‘Soppeng Sehat’. Sehat secara jasmani masyarakatnya, dan sehat pula secara manajemen pelayanannya,” pungkas Bupati.






